Pages

Selasa, 03 Mei 2011

bermain dengan tar dan rpm

Artikel ini kami ambil dari sitenya pak made wiryana dengan harapan semoga ada manfaatnya bagi kita semua, silahkan nikmati

Salah satu yang membingungkan para pemula di Linux adalah menginstall program. Beberapa program dikemas
dalam paket tar, tar.gz, tgz, dan juga rpm. Berikut ini diberikan informasi singkat tentang pemakaian
program tar dan rpm

Bekerja dengan TAR

tar adalah utility yang lazim digunakan di Unix untuk membuat direktori dan file menjadi satu atau dengan kata
lain mempaketkan. Nama tar sendiri berasal dari kata Tape Archiver. Banyak software untuk Linux
didistribusikan dalam bentuk tar ini, memang kini banyak yang sudah menggunakan bentuk paket yang lainnya
yaitu rpm (Red Hat Packet Manager) dan deb (Debian). Akan tetapi tidak semua sistem memiliki utility untuk
menangani rpm, dan deb ini. Tetapi bisa dikatakan semua sistem Unix memiliki utility tar ini.

File yang disimpan sebagai file tar ini lazim dikenal dengan nama file arsip (archieve file). Berikut ini adalah tip
singkat untuk menggunakan tar.

tar -xvzf
Melakukan proses pemekaran (uncompress) pada file bernama nama_file_tar dengan menggunakan
gzip, dan lalu membongkar file arsip tersebut. Proses ini biasanya dilakukan terhadap file arsip yang
memiliki ekstensi tgz atau tar.gz

tar -xvf :
Membongkar suatu file arsip tanpa melakukan pemekaran, dilakukan terhadap file arsip yang memiliki
ekstension tar

tar -tvf
Menampilkan daftar isi dari file arsip bernama nama_file_tar.

tar -cvzf
Melakukan pemaketan dari direktori_sumber dalam bentuk tar dan lalu melakukan proses
pengompresan dengan gzip. Hasil dari proses ini adalah tgz atau tar.gz.

tar -cvf
Melakukan pemaketan dari direktori_sumber dalam bentuk tar. Hasil dari proses ini adalah tar.

Bermain-main dengan RPM

Pada saat ini bisa dikatakan sebagian besar program untuk Linux didistribusikan dalam format rpm (Red Hat
Packet Format). Beberapa tips menggunakan rpm akan dijelaskan di bawah ini (pastikan anda telah memiliki
program rpm agar dapat melakukan perintah di bawah ini.

Menginstal program

rpm -U

Apabila anda pertama kali menginstall program, cobalah dulu dengan perintah : rpm -i
Apabila anda mengalami kesulitan karena keterkaitan dengan paket lainnya dapat digunakan option --nodeps.
Perhatikan tanda minus 2 kali.

Menghapus (uninstal) program

rpm -e

Mengetest apakah program terinstal dengan benar

rpm -V

Menampilkan semua nama paket yang terinstal di sistem

rpm -qa

Menampilkan informasi mengenai suatu paket

rpm -q

Menampilkan pemilik paket dari suatu file

rpm -qf

Menampilkan informasi mengenai suatu paket dan file di dalamnya

rpm -qilp

Menampilkan file konfigurasi pada suatu paket

rpm -qc rpm -qcp

Berinternet Sehat

Internet berasal dari kata inter dan networking secara umum internet dapat didifinisikan sbb :
Gabungan komputer komputer diseluruh dunia dengan menggunakan berbagai media penggubung, sehingga terbentuk suatu komunitas global yang salaing berinteraksi. Untuk lebih detail mempelajari masalah internet dapat dibaca tutorialnya di web site : http://www.cs.indiana.edu/docproject/zen/zen-1.0_toc.html.


2. Service Internet
a. WWW
WWW (World Wide Web) berdasarkan HTML (Hypertext Mark-up Language), yang merupakan bahasa scripting yang memungkinkan dokument, graphics, and multimedia digabungkan bersama. Dengan HTML dokumen dapat dipercantik dengan warna, hurup dan grafik sehingga dapat dilihat lebih indah oleh pemakai. Jika ingin tahu lebih detail dengan WWW silahkan coba link berikut ini : http://www.cio.com/WebMaster/sem2_web.html

WWW di internet dapat kita manfaatkan dengan applikasi internet yang sering disebut dengan Browser, applikasi tersebut al :
1. Intenet Explorer (lisensi)
2. Netscape (free dan lisensi)
3. Opera ( free)
4. Lynx (free)
5. Dll

b. E-Mail
E-Mail adalah singkatan dari Elektronik Mail. Dengan E-Mail kita dapat mengirimkan pesan kepada seseorang, dan si penerima dapat membalas e-mail kita kembali. Secara umum format sebuah e-mail adalah username@domain.name misalnya way@posindonesia.co.id dibaca (way at posindonesia dot co dot id), way adalah username posindonesia.co.id adalah domainnamenya. Lebih jauh tentang tutorial e-mail silahkan kunjungi site : http://www.esl-lab.com/courses/email.html
Dalam e-mail sering kita dengan istilah MUA (Mail User Agent) adalah applikasi yang dimanfaatkan untuk trasfer mail dari server ke user. Yang termasuk MUA antara lain :
1. Eudora (lisensi)
2. Outlook Expess (lisensi)
3. Opera Mail (free)
4. dll

c. FTP
FTP adalah singkatan dari File Transfer Protokol, dengan FTP memungkinkan orang atau pengguna dapat mentransfer file dari sebuah server ke pc yang dipakai. Banyak server di internet yang menyediakan pasilitas ini dengan memanfaatkan user anonymous dan password alamat mail kita dapat mentransfer file apa saja yang disediakan server. Tutorial tentang FTP dapat dibaca di : http://www.ftpplanet.com/ftpresources/basics.htm

Applikasi FTP yang sering digunakan al :
1. CuteFTP
2. Gozila
3. WsFTP
4. Dll

d. Chatt
Chatt adalah salah satu pasilitas internet yang sangat digemari oleh banyak kalangan masyarakat kita. Dengan Chatt memungkinkan kita berkomunikasi secara langsung (online) dengan teman kita dilain tempat. Saat ini chatt bukan saja hanya dapat melakukan komunikasi secara text base tapi dengan penambahan beberapa alat tertentu kita juga bisa berkomunikasi dengan gambar dan suara.
Untuk informasi chatt lebih lengkap silahkan coba link berikut ini : http://www.davesite.com/webstation/inet101/chat01.shtml

Applikasi yang sering digunakan untuk chatt al :
1. MiRC
2. ICQ
3. Yahoo Massager
4. Dll

Beberapa istilah chatt :
A/S/L Age/Sex/Location
ACK Aku Cinta Kamu
AFAIC As Far As I'm Concerned
AFAIK As Far As I Know
AFK Away From Keyboard
AMBW All My Best Wishes
AML All My Love
ASAP As Soon As Possible
ATST At The Same Time
AYSOS Are You Stupid or Something
B4 Before
B4N Bye For Now
BBL Be Back Later
BBN Bye Bye Now
BBSD Be Back Soon Darling
BF Boy Friend
BGS Bagus
BGT Banget
BLS Bales
BMV Be My Valentine
BRB Be Right Back
BT Bosan Total
BTW By The Way
BYOH Bat You Onna Head
CE Cewek
CIO Check It Out
CO Cowok
CU See You
CUL8R See You Later
CW2CU Can"t Wait to See You
DKDC Don't Know Don't Care
Eg Evil Grin
EGP Emang Gue Pikirin
EOM End Of Message
F2F Face To Face
FYI For Your Information GF Girl Friend
GL Good Luck
GOA Glad All Over
GR8 Great
GTGB Got To GO, Bye Hug
GUMLAD Gua Mau Loe Ada (Hadir)
h Hug
H&K Hug And Kiss
ILVU I Love You
IMHO In My Humble Opinion
IMSU I Miss You
JAIM Jaga Image
JJ Jalan-jalan
JK Just Kidding
K Kiss
KGN Kangen
LOL Laughing Out Loud
MM Memang
MOTOS Members of The Opposite Sex
OBTW Oh, By The Way
OIC Oh I See
OL Old Lady/ Istri
OM Old Man/Suami
PLS Please
PSSBL Possible
PV Privat
SJK Sampai Jumpa Kembali
SLMTJLN Selamat Jalan
SRI Sorry
sSi Stop SHOUTHING, Idiot !
T4 Tempat
THX Thanks
TTDJ Hati-hati di Jalan
U/ Untuk
W/O Without/tanpa
Y? Why?

3. Tips Berinternet Dengan Aman
Agar kita dapat melakuak aktipitas berinternet dengan aman tanpa mengganggu aktivitas kerja kita sehari hari dikantor berikut kami sampaikan sedikit tips berinternet yang baik dan aman.
1. Jangan membaca / mebuka e-mail dari orang yang tidak kenal
2. Jangan membuka e-mail yang berisi attach file yang berekstensi *.pif, *.eml, *. vbs, *.bat, *.svr
3. Jangan menerima dialog yang dikirim otomatis saat kita join di IRC
4. Jika reply mail di milist, hapus isi mail terdahulu yang tidak perlu
5. Jangan mengunjungi site site underground atau site site hacker karena otomatis data anda akan dilog.
6. Jangan mengunjungi site site XXX atau jangan mendownload sesuatu pada site XXX
7. Pasanglah antivirus pada PC anda. Apabila di mailserver Anda sudah dipasang antivirus, Anda tetap disarankan untuk memasang antivirus pada PC Anda, sebaiknya gunakan antivirus dari vendor yang berbeda.
8. Jangan lalai untuk meng-update data antivirus Anda. Keterlambatan bisa berakibat ketidakmampuan antivirus untuk mendeteksi virus-2 baru.
9. Ketahuilah bahwa email Anda di kantor dapat diaudit dan diawasi lalu lalangnya oleh perusahaan, karena itu sebaiknya tidak menggunakan email untuk keperluan yang sangat pribadi.
10. Anda bisa ditegur oleh Administrator apabila Anda menerima dan mengirimkan attachment file dengan ukuran besar menggunakan email account kantor Anda karena dapat membebani traffic di jaringan kantor. Oleh karena itu sedapat mungkin hindari tukar menukar file besar dengan email account kantor yang tidak ada hubungannya dengan perusahaan.
11. Jangan mendaftar di situs apapun di internet (kecuali yang berhubungan dengan perusahaan dan pekerjaan Anda) dengan menggunakan email account Anda di kantor, kalau anda tidak ingin email Anda dibanjiri spam. Termasuk juga tidak meletakkan email account Anda pada situs pribadi atau situs apapun juga. Para spammers biasa mengumpulkan email address yang terdapat pada situs. Hal ini juga bisa membuat para spammers mengklasifikasi Anda pada target marketnya.
12. Jangan langsung men-delete pemberitahuan virus terbaru yang dikirimkan oleh Administrator Anda. Baca dengan teliti dan berhati-hatilah.
13. Jangan pernah mendaftarkan e-mail perusahaan anda di mailing list diluar domain anda, karena akan sangat memberatkan smtp anda.

Awas, 'Sulap' Linux Rusak CD-ROM

detikcom - Jakarta, Mandrake, distribusi Linux asal perusahaan software Mandrakesoft, Prancis, memang menggunakan nama dari pesulap legendaris Mandrake The Magician. Sayang, kali ini sulapannya berbuah malang bagi pemilik komputer dengan CD-ROM LG.

Diberitakan di situsnya, eror itu terjadi saat instalasi sitem Mandrake 9.2. Instalasi Linux akan merusak CD-ROM berbasis teknologi LG.

Ketika instalasi dilakukan, muncul pesan yang berbunyi "unable to install the base system" dilanjutkan dengan kematian CD-ROM secara fisik. Dengan kata lain: rusak!

LG Electronics, menurut Mandrakesoft, mengakui bahwa ODD (optical disk drive) buatan mereka tidak mendukung Linux dan belum pernah diuji dengan Linux. Mandrakesoft membuat daftar CD-ROM LG apa saja yang bisa dan tidak bisa menggunakan Mandrake 9.2.

Sampai saat ini, 'pembunuhan' CD-ROM LG oleh Mandrake 9.2 adalah satu-satunya kesalahan dalam instalasi 9.2 yang tidak bisa diperbaiki oleh Mandrakesoft. Tercatat 3 (tiga) kesalahan saat instalasi dan 9 (sembilan) kesalahan saat penggunaan Mandrake 9.2 yang telah teridentifikasi.

Seperti terlihat dalam situsnya, Mandrake menyediakan solusi untuk masalah-masalah lain, kecuali masalah ini. "Masalah ini belum bisa diperbaiki, dan masih dalam penyelidikan. Kerusakan terjadi ketika instalasi jaringan. Tolong jangan memasang Mandrake di sistem dengan CD-ROM LG," jelas pernyataan di situs itu.

Ada Berapa Pengguna Linux di Indonesia

detikcom - Jakarta, Jumlah pengguna linux Indonesia, yang terdaftar di situs penghitung dunia, adalah 661 orang. Sama halnya dengan penyebaran komputer yang tidak merata, pengguna Linux terkonsentrasi di DKI dan Jawa Barat.

Itu adalah statistik yang dihadirkan Situs Penghitung Linux Dunia. Menurut situs tersebut, Rabu (19/11/03), Indonesia duduk di rangking ke 135 dalam urutan pengguna Linux di dunia.

Ranking tersebut dihitung berdasarkan densitas (perbandingan jumlah pengguna Linux dengan jumlah penduduk total). Indonesia memiliki densitas 3,16 pengguna Linux per juta populasi bangsa Indonesia.

Paling banyak, pengguna Linux di Indonesia, berada di DKI Jakarta dan Jawa Barat. Sebanyak 235 pengguna mengaku berdomisili di Jakarta dan 146 di Jawa Barat.

Di posisi ketiga Jawa Timur memiliki 84 pengguna. Sedangkan, di daerah lain seperti Bali, Banten, Jogja dan Jawa Tengah angka pengguna berkisar pada 20-an.

Ranking di Kancah Internasional
Di atas Indonesia ada Thailand yang penduduknya lebih sedikit. Karena jumlah populasi yang sedikit itu, dengan hanya 224 orang pengguna Linux terdaftar Thailand dapat menempati posisi yang lebih baik.

Karena perhitungan ranking berdasarkan densitas, tak heran kalau posisi puncak diduduki oleh Kepulauan Faroe. Kepulauan berpenduduk 46.339 orang itu memiliki 50 pengguna Linux terdaftar.

Total pengguna Linux, dari seluruh dunia, yang telah mendaftar pada situs ini adalah 135.545. Pengelola situs counter.li memperkirakan jumlah itu hanya 0,2 persen dari seluruh pengguna Linux di dunia.

Dari kuantitas, pengguna Linux terbanyak masih dari Negeri Paman Sama (27186 pengguna terdaftar). Disusul oleh negeri asalnya SuSE, Jerman dengan 11156.

Beberapa angka yang menarik ditunjukkan oleh rising star teknologi dunia. India, tempat berdirinya pusat teknologi tinggi Bangalore, memiliki 2819 pengguna. Sedang di Cina tercatat 1063 pengguna.

Karena situs counter.li.org hanya merekam pengguna Linux yang mendaftarkan diri secara sukarela, maka angka sesungguhnya masih belum diketahui. Namun, kalau anda merasa diri sebagai pengguna Linux, tidak ada salahnya mendaftar di situs tersebut.

Sumber : detik.com
Link : http://www.detikinet.com/net/2003/11/19/20031119-152102.shtml

Ada apa dengan linux live CD

Belakangan ini sering sekali kita mendengar Linux Live CD, dan tak jarang diantara kita semua punya keinginan untuk ikut mencoba coba membangun Linux Live CD.
Berikut ini adalah beberapa hal yang mungkin bisa dilakukan dengan Linux Live CD.

1. Mencoba Linux tanpa harus menginstall
2. Digunakan sebagai potable desktop
3. Maintenance HD dan Recovery Data
4. Audit Jaringan
5. Menjajal s/w yang jalan di linux
6. Mengembalikan password windows yang terlupakan
7. Coba Coba bikin distro sendiri
8. Untuk Keperluan Multi media
9. Main Game
10 Scan dan tangkal virus

detail dari linux live cd bisa di cek di :
http://www.frozentech.com/content/livecd.php

"Suram, Pertumbuhan Internet Indonesia 2003"

Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) sempat optimis bahwa pertumbuhan pelanggan Internet Service Provider (ISP) sepanjang 2002 lalu dapat melaju sebesar 72,12% menjadi 1 juta pelanggan, bergerak dari 581 pelanggan pada 2001. Sayangnya, optimisme tersebut ternyata masih harus disimpan di bawah bantal. Dihadapkan pada hasil riset ACNielsen Indonesia terkini, APJII akhirnya harus menyerah pada kenyataan bahwa pertumbuhan pelanggan sepanjang 2002 hanya 7% saja.

Masih menurut ACNielsen, jumlah pengguna akses residensial (rumah-tangga) ternyata anjlok sebesar 6%, dari level 13% pada 2000 menjadi hanya 7% pada 2002. Seiring dengan penurunan daya beli masyarakat, lantaran naiknya biaya kehidupan sehari-hari, ditambah dengan naiknya tarif telepon, maka suram adalah kata yang tepat untuk memprediksi pertumbuhan pengguna Internet di Indonesia pada 2003.

Naiknya Biaya Menggunakan Internet

Naiknya tarif telepon hingga rata-rata sebesar 33,33% pada 2003, apapun alasannya, membawa dampak turutan yang cukup signifikan, karena secara otomatis biaya yang harus dikeluarkan oleh pengguna Internet dial-up akan mengalami kenaikan. Hitung-hitungan mudahnya, jika pada 2002 untuk biaya pulsa telepon lokal yang harus dikeluarkan sekitar Rp 6500 per jam, maka pada 2003 nanti akan melonjak menjadi sekitar Rp 8500 per jam. Jika rata-rata biaya berlangganan akses Internet adalah sebesar Rp 3300 per jam, maka total biaya yang harus ditanggung oleh pengguna dial-up pada 2003 adalah Rp 11800 per jam. Biaya ini tentu akan semakin memberatkan para pengguna residensial. Jika pada 2002 biaya koneksi Internet Rp 9800 per jam berdampak pada anjloknya pengguna residensial sebesar 6%, maka dapat dibayangkan bagaimana dengan kondisi 2003 dengan biaya Rp 11800 per jam tersebut (biaya tersebut belum termasuk abodemen ISP sekitar Rp 20 ribu per bulan).

Para ISP pun terpaksa harus makin mengetatkan ikat pinggangnya, kalau tidak ingin menyusul kematian rekan-rekan mereka sebelumnya. Padahal, seperti kerap dikeluhkan oleh beberapa pengelola ISP, biaya langganan mereka sangat tidak mencukupi untuk kebutuhan operasional, semisal sewa saluran E-1 dari Telkom, menyewa bandwidth Internet, memelihara infrastruktur dan sebagainya. Menurut mereka, menaikkan biaya berlangganan adalah cara bunuh diri yang cepat. Pelanggan akan berhamburan kabur, karena biaya koneksi Internet akan semakin mencekik. Akhirnya rata-rata ISP mematok biaya berlangganan hanya sebesar Rp 3300 per jam, dan biaya itupun tidak mengalami kenaikan sejak beberapa tahun lalu. Walhasil, tidak banyak ISP yang mampu bertahan hidup. Sebagian ada yang secara pasrah menguburkan dirinya, sebagian ada yang masih optimis berjuang.

Dari sekian banyak yang optimis ini, rata-rata menghidupi dirinya dari bisnis-bisnis sampingan non dial-up, semisal bisnis Voice over Internet Protocol (VoIP), memfokuskan diri pada pelanggan korporasi ataupun menjajakan hardware secara retail. Itupun hasilnya hanya pas-pasan untuk nafas sehari-hari, sangat minim dana yang dapat dialihkan untuk berpromosi dan melakukan pengembangan pasar. Inilah sebabnya maka pertumbuhan pelanggan Internet di Indonesia sepanjang 2002 stagnan. Pasar tidak berkembang, dan ISP yang ada hanya mengelola, atau bahkan memperebutkan, porsi kue yang itu-itu saja.

Buah Simalakama TelkomNet Instan

Sialnya, ISP yang sudah senin-kamis tersebut masih harus bersaing dengan TelkomNet Instan. Tidak usahlah kita jauh-jauh menganalisa persaingan dari sisi kemudahan dan kemurahan biaya dalam mendapatkan saluran “wajib” bagi para ISP yaitu E-1. Yang jelas kita sama-sama tahu, TelkomNet adalah anak emas Telkom, dan Telkom adalah satu-satunya penyedia E-1 di tanah air ini. Cukuplah kita menganalisa persaingan tersebut dari faktor biaya berlangganan Internetnya saja. Menurut hasil survei majalah InfoKomputer, yang juga dimuat oleh buletin TelkomNet edisi Oktober 2002, TelkomNet menguasai 50,7% pangsa pasar pelanggan ISP secara nasional.

Remah-remahnya diperebutkan oleh beberapa ISP, dengan porsi yang menguatirkan. Posisi kedua setelah TelkomNet adalah CBN dan Centrin, yang keduanya sama-sama meraih pangsa pasar sebesar 7,91%. Dengan posisi dominan tersebut, ditambah dengan kemudahan mendapatkan beragam infrastruktur dari Telkom sebagai induk semangnya, TelkomNet tentu mampu melakukan apapun untuk memperbanyak peggunanya. Jika besaran kue yang diperebutkan oleh para ISP hanya yang itu-itu saja, maka apapun langkah TelkomNet Instan akan menjadi buah simalakama.

Mengapa demikian? Ini berkaitan dengan tarif TelkomNet yang sebesar Rp 9900 per jam, sudah termasuk biaya pulsa telepon dan akses Internet, tanpa dikenakan biaya abodemen ISP. Pada 2003, tarif TelkomNet tersebut setara dengan biaya yang harus dikeluarkan pengguna Internet biasa apabila menggunaka ISP lain. Tetapi dengan keunggulan yang dimiliki TelkomNet, semisal tidak ada biaya bulanan, tanpa harus mendaftar, tagihan akses Internet disatukan dengan lembar tagihan pulsa telepon dan dapat diakses dibanyak kota melalui saluran 0809, maka pastilah TelkomNet menjadi pilihan utama dan terbukti menguasai mayoritas pangsa pasar.

Belum lagi promosi besar-besaran jasa TelkomNet oleh induk semangnya melalui beragam jalur yang tidak mungkin dilakukan oleh para ISP lain. Misalnya melalui iklan rutin di berbagai media cetak dan di sebuah acara variety show Telkomania yang tiap minggu rutin ditayangkan selama satu jam di RCTI. Tak cukup hanya itu, TelkomNet bahkan secra berkala melakukan diskon progresif hingga sebesar 40% untuk pemakaian Internet di atas 40 jam per bulan.

Jika pada 2003 ini TelkomNet tetap mematok biaya akses Internetnya pada angka Rp 9900 per jam, maka dapat dipastikan bahwa TelkomNet akan semakin digdaya lantaran jika menggunakan ISP lain para pengguna Internet akan terkena biaya Rp 11800 per jam. Dapat dibayangkan bahwa akan terjadi migrasi besar-besaran para pengguna dial-up dari ISP lain ke TelkomNet.

Menaikkan tarif TelkomNet pun ternyata bukan suatu solusi yang jitu. Pasalnya, cukup banyak yang pengguna Internet yang puas dengan pelayanan TelkomNet dengan harga yang terjangkau tersebut. Buktinya dia berhasil memperoleh penghargaan Indonesian Customer Satisfaction Award (ICSA) 2002 tentang Perolehan Terbaik Kepuasan Konsumen dalam kategori ISP. Oleh karena itu, TelkomNet tentu akan berpikir berulang kali jika ingin menetapkan kenaikan layanan Internetnya.

Selain ini berkaitan dengan bentuk perhatian kepada konsumen mengenai kualitas dan harga yang sepadan, tentu saja TelkomNet juga tidak akan rela apabila porsi kuenya yang sudah sebesar 50,7% tersebut berkurang nantinya lantaran lari ke ISP lain. Kalau bisa diperbesar, mengapa tidak. Tetapi yang paling penting dari pertimbangan untuk tidak menaikkan tarif TelkomNet adalah karena masih sangat banyak pengguna dial-up residensial dan warnet kelas menengah yang tergantung kepada Telkomnet. Bagi para pengguna residensial, kenaikan tarif TelkomNet ini tentu akan berdampak pada semakin enggannya mereka untuk menggunakan Internet. Berarti akan semakin anjloklah pengguna Internet dari sektor rumah tangga. Sedangkan bagi warnet kelas menengah dan menengah ke bawah, kenaikan tarif TelkomNet benar-benar suatu bencana.

Kalau warnet coba-coba menaikkan tarif sewa mereka, maka akan semakin besar kemungkinan pelanggan lari ke warnet lain yang lebih besar, yang lebih mampu mengadopsi teknologi akses Internet alternatif semisal menggunakan wireless, ADSL, cable ataupun VSAT sekalipun. Tetapi jika tarif sewa tidak mereka naikkan, ini akan memporak-porandakan cash flow mereka, lantaran mengecilnya pemasukan mereka. Apapun langkah yang akan dipilih oleh warnet, bagaikan menggali lubang kubur mereka sendiri.

Harapan Tinggal Harapan

Jelas sudah, keberadaan TelkomNet memang berpengaruh secara bisnis bagi ISP lain. Meskipun demikian, TelkomNet juga memiliki sumbangan yang signifikan terhadap komunitas Internet di Indonesia. Yang jadi inti masalahnya, perilaku berbisnis TelkomNet, yang kerap dianak-emaskan oleh Telkom, secara langsung akan berpengaruh pada peningkatan penetrasi Internet. Semakin sedikit ISP yang sehat, akan semakin kecil kemungkinan adanya anggaran pendidikan dan peningkatan potensi pengguna Internet di Indonesia. Sudah pasti, TelkomNet tidak akan mampu mengembangkan pasar seorang diri.

Apa yang dilakukan TelkomNet saat ini tidak lain hanyalah merebut porsi kue dari ISP lain, tanpa membesarkan kue atau mengadakan kue tambahan. Menurut APJII, total ada 180 ijin ISP yang telah dikeluarkan Ditjen Postel hingga 2002. Dari jumlah sebanyak itu, tidak lebih 20 buah saja yang masih bisa bertahan hidup dengan mengais rezeki dari sektor residensial. Sedangkan yang lain sudah enggan melayani pasar residensial yang tak kunjung membesar tetapi diperebutkan oleh sekian banyak ISP, termasuk Telkomnet yang sudah menguasai 50,7%. Sudah tidak ada lagi yang tersisa.

Kalau ditarik ke belakang, memang ujung dari permasalahan ini adalah mahalnya tarif telepon di Indonesia. Apapun alasan dan tujuan kenaikan tersebut, pastinya akan memukul industri Internet di Indonesia. Kalaupun kenaikan dan mahalnya tarif telepon di Indonesia adalah harga mati, sebenarnya masih ada optimisme dari para pebisnis ISP untuk dapat terus berjuang. Syarat yang mereka ajukan antara lain adalah Telkom tidak pilih kasih dan tidak mempersulit penyediaan infrastruktur E-1, TelkomNet harus disapih dari induk semangnya dan VoIP diijinkan sebagai bisnis sampingan yang bebas dan legal bagi ISP tanpa terkecuali. Harapan tinggal harapan?

Waspadai Pergeseran Tren Pengguna Internet Indonesia"

Jangan anggap remeh potensi bisnis yang dikandung oleh e-commerce. Menurut estimasi eMarketer Inc, penyedia data statistik bisnis yang berbasis di New York, revenue dari sektor e-commerce khusus untuk kawasan Asia-Pasifik saja akan membumbung tinggi, dari US$ 76,8 miliar pada akhir tahun 2001 lalu menjadi US$ 338,5 miliar pada akhir 2004 nanti. Sektor business-to-business (B2B) merupakan penyumbang terbesar, dengan estimasi sekitar US$ 300,5 miliar.

Sedangkan sektor business-to-customer (b2c) memiliki andil sebesar US$ 38 miliar. Estimasi tersebut didasarkan pula pada pertumbuhan jumlah pengguna Internet yang terus tumbuh. Pada akhir 2002, jumlah pengguna Internet di negara kawasan Asia Pasifik diperkirakan akan mencapai 181,5 juta orang. Sedangkan nanti pada tutup tahun 2004, diperkirakan angka tersebut akan meningkat drastis menjadi 235,8 orang.

Berangkat dari angka optimistik yang dilansir pada September 2002 tersebut, maka kawasan Asia Pasifik merupakan pangsa pasar terbesar industri e-commerce dunia. Jepang, Cina dan Korea Selatan adalah tiga negara terbesar jumlah pengguna Internetnya. Hal tersebut tidak mengherankan, berdasarkan data International Telecommunication Union (ITU) dan International Data Base (IDB) US Census Bureau yang dilansir pada 2002, tingkat penetrasi Internet di Korea Selatan yang berpenduduk sekitar 47 juta jiwa tersebut adalah 51,1% (sekitar 24 juta pengguna).

Cina, meskipun penetrasi Internetnya hanya 2,6%, tetapi kuantitasnya menjadi besar karena jumlah penduduk Cina mencapai 1,2 miliar jiwa (lebih dari 31,2 juta pengguna). Sedangkan Jepang, dengan jumlah penduduk sekitar 127 juta jiwa, jumlah pengguna Internetnya mencapai 45,5% (sekitar 57,78 juta pengguna).

Bandingkan dengan Indonesia yang berpenduduk 231 juta jiwa, penetrasi Internetnya hanya 1,9% (sekitar 4,38 juta pengguna). Dengan jumlah pengguna Internet yang kecil tersebut, jangan harap Indonesia akan bisa mendapatkan porsi yang cukup besar dalam kue revenue e-commerce.

Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pun akan mengalami kesulitan ketika diminta meningkatkan penetrasi Internet di Indonesia. Pasalnya, nyata sekali bahwa para Internet Service Provider (ISP), yang notabene adalah anggota APJII, kurang menyadari pentingnya memperluas pasar jasa layanan mereka. Sosialisasi pemanfaatan Internet dan edukasi teknologi informasi yang dilakukan oleh ISP nyaris nihil. Kalaupun ada, sifatnya masih parsial dan ditujukan hanya untuk me-maintain pasar yang itu-itu saja. Disadari ataupun tidak, sekian banyak ISP di Indonesia berebut pasar yang kian lama kian jenuh. Walhasil, cukup banyak ISP yang tutup, menciutkan diri, mentransfer pelanggannya ke ISP lain, atau memaksa hidup kembang-kempis. Sebabnya, mereka kesulitan menambah jumlah pelanggan Internet.

APJII memang sempat optimis bahwa akan tercapai peningkatan pelanggan sekitar 1 juta orang pada 2002, dengan asumsi kenaikan sekitar 72,12% dari 581 orang pada 2001. Tetapi tampaknya telah merevisi prediksi tersebut dengan menyatakan bahwa jumlah pelanggan Internet pada 2002 akan stagnan atau seperti tahun lalu. Tidak melulu rendahnya penetrasi Internet di Indonesia merupakan tanggung-jawab APJII dan para ISP anggotanya.

Rendahnya penetrasi telepon di Indonesia misalnya, yang hanya 3% - 4% dari total jumlah penduduk, juga merupakan salah satu faktor penghambat yang signifikan. Hal lain yang cukup dominan adalah mahalnya biaya pulsa telepon. Dengan kondisi Indonesia dewasa ini, maka biaya pulsa telepon (dan kenaikannya) akan semakin menjauhkan masyarakat dari Internet dan menjadikan Internet sebagai prioritas yang terendah dalam kehidupan sehari-hari.

Bagaimana dengan jumlah pengguna? Meskipun tidak dibarengi dengan peningkatan jumlah pelanggan, untuk jumlah pengguna tampaknya masih tetap tumbuh meskipun dengan tingkat yang sama seperti tahun lalu, yaitu sebesar 7% menurut hasil riset ACNielsen Indonesia terkini. AC Nielsen menyebutkan pula bahwa untuk 2002 ini terjadi pergeseran tempat mengakses Internet yang cukup signifikan.

Jika pada 2000 warung Internet (warnet) merupakan tempat favorit bagi 50% pengguna Internet, maka pada 2004 ini diperkirakan meningkat menjadi 64%. Peningkatan tersebut ternyata merupakan dampak dari turunnya jumlah pengguna akses rumahan menjadi 7% tahun ini, dari 13% pada 2000. Tren penurunan tersebut diikuti pula oleh pengguna akses kantoran, dari 42% pada 2000 menjadi 18% tahun ini.

Tren meningkatnya pengguna warnet perlu dicermati, karena memiliki dua sisi yang saling bertolak-belakang. Positifnya, dengan tumbuhnya para pengguna warnet, maka diharapkan para pengusaha warnet akan dapat memanen untung dan meningkatkan usahanya. Hal tersebut akan memacu para pemilik modal untuk menanamkan pundi-pundi uangnya pada bisnis warnet. Walhasil, masyarakat akan semakin menikmati mutu layanan dan biaya akses Internet yang kompetitif, seiring dengan terciptanya persaingan yang sehat antar warnet.

Semakin banyak pengguna Internet, maka akan semakin besar porsi kue revenue e-commerce dunia yang bisa direbut Indonesia.Tetapi, kita harus pula mengkaji sisi negatif dari tren tersebut di atas, karena justru akan menciutkan porsi Indonesia. Apa sebab?

Dengan meningkatnya jumlah pengguna warnet, bukan tidak mungkin para pemilik modal akan membangun warnet hanya sebagai profit center. Margin keuntungan hanya akan dihitung berdasarkan nilai nominal uang yang masuk dalam meja kasir. Warnet tidak diposisikan, setara dengan perpustakaan, yang harus dikawal, dijaga dan dirawat sebagaimana lazimnya sebuah perpustakaan misalnya. Inilah yang menyebabkan mengapa warnet pada akhirnya menjadi sentra informasi dan aktifitas apa saja, termasuk pornografi dan cyberfraud.

Tidak ada, atau jarang sekali, proposal pendirian warnet yang mencantumkan masalah analisa dampak sosial pada masyarakat sekitar terhadap berdirinya sebuah warnet dan rencana antisipasinya. Warnet yang telah berdiri pun sangat jarang yang melakukan semacam bimbingan dan arahan kepada masyarakat sekitar warnet pada umumnya, dan penyewa pada khususnya, tentang memanfaatkan Internet secara aman dan bertanggung-jawab.

Asalkan uang masuk kas lancar, tak peduli jasa akses Internet yang disewakannya tersebut digunakan untuk apa saja, termasuk untuk kejahatan sekalipun. Walhasil, sudah menjadi rahasia umum, dan kerap muncul dalam pemberitaan di media massa, bahwa para carder, sebutan bagi para pelaku cyberfraud, hampir selalu memanfaatkan warnet sebagai tempat melakukan aksinya.

Cyberfraud sejatinya dapat mengancam bisnis e-commerce Indonesia, bukan lantaran nilai nominal kerugiannya, tetapi karena citra yang ditimbulkannya. Komunitas Internet dunia sangat peduli dengan isu yang berkaitan dengan keamanan bertransaksi secara online.

Berdasarkan riset yang dilakukan oleh PC Data Online pada 2000, dengan maraknya kasus kejahatan di Internet, 54% responden menyatakan bahwa dirinya akan mengubah kebiasaan kebiasaannya di Internet. 80% dari yang akan berubah tersebut menyatakan akan semakin jarang mengirim informasi kartu kredit melalui Internet. Sedangkan menurut hasil riset Internet terkini yang dirilis pada November 2001 oleh Pusat Kebijakan Komunikasi UCLA, dinyatakan bahwa 98,9% pengguna Internet pemula (< 1 tahun) dan 89,1% pengguna Internet berpengalaman (minimal 5 tahun) peduli dengan keselamatan data kartu kredit mereka di Internet.

Untuk kondisi di Indonesia, kita dapat merujuk pada hasil riset yang dilansir oleh MarkPlus pada 2000 lalu. Responden yang diambil sebanyak 1100 orang dari lima kota utama di Indonesia, yaitu Jabotabek, Bandung, Yogyakarta, Surabaya dan Medan. Hal yang perlu digarisbawahi pada hasil survei tersebut adalah ternyata 90% dari total responden belum pernah atau enggan bertransaksi online.

Ketika ditanya kenapa mereka enggan melakukan transaksi, jawabannya antara lain: tidak percaya/kuatir (15,1%) dan tidak aman/resikonya tinggi (13,6%). Ini berarti 25,85% atau sekitar 284 dari 1100 responden yang disurvei ternyata enggan bertransaksi e-commerce karena kuatir dengan faktor keamanan bertransaksi melalui Internet.

Maka tidaklah heran, ketika ClearCommerce Inc, sebuah perusahaan e-sekuriti yang berbasis di Texas, pada awal 2002 menyatakan bahwa Indonesia berada di urutan kedua negara terbanyak tempat beraksinya carder, secara serta-merta banyak situs e-commerce yang melakukan collective punishment terhadap komunitas Internet Indonesia. Pemblokiran nomor Internet Protocol (IP) Indonesia, kartu kredit Indonesia hingga pemesanan yang dari dan ke Indonesia akan segera ditolak.

ClearCommerce menyatakan bahwa sekitar 20 persen dari total transaksi kartu kredit dari Indonesia di Internet adalah cyberfraud, berdasarkan survey yang dilakukan terhadap 1137 merchant, 6 juta transaksi, 40 ribu customer, dimulai pada pertengahan tahun 2000 hingga akhir 2001. Collective punishment tersebut, sebenarnya secara parsial telah dilakukan oleh beberapa situs e-commerce jauh sebelum ClearCommerce mengeluarkan datanya. Sekarang, tekanan tersebut semakin telak memukul Indonesia.

Pepatah ibarat nila setitik rusak susu sebelanga, pantas disandang oleh komunitas Internet Indonesia. Tetapi harus kita sadari bahwa kehadiran “nila” atau carder tersebut bukanlah serta merta muncul dari ketiadaan.. Setiap aksi kejahatan apapun, selain karena adanya niat dari si pelaku, terutama didukung pula dengan adanya peluang. Tanpa kita sadari, sikap, cara dan perilaku kita dalam berbisnis pun memiliki andil yang cukup dominan dalam memunculkan peluang tersebut.